Tuesday, April 28, 2009

- 1 dan 2 Samuel

Dalam Alkitab 'Massoret' kitab ini bernama sama dan terdiri dari satu buku saja ( שמואל - SYEMU'EL). LXX membaginya ke dalam dua bagian Biblio Basilion yang artinya buku kerajaan, buku kerajaan 1 ( Βασιλειων Α - BASILEIÔN ALPHA, 1 Samuel ) dan buku kerajaan 2 ( Βασιλειων Β - BASILEIÔN BETA, 2 Samuel), sedang buku-buku Raja-Raja disebut sebagai buku kerajaan 3 (Βασιλειων Γ - BASILEIÔN GAMMA, 1 Raja-raja) dan buku kerajaan 4 (Βασιλειων Δ - BASILEIÔN DELTA, 2 Raja-raja ) Dalam Vulgata dibagi sesuai bentuknya sekarang yang juga digunakan dalam terjemahan LAI.


Isi Kitab

Isi kitab berkenaan dengan pembangnan agama dari masa kegelapan dimasa Hakim-hakim (Theokrasi) menuju masa Monarki, juga perubahan dari sitem Keimaman di Silo menjadi sistem kenabian di Rama.


Kitab 1 Samuel dimulai dengan diangkatnya Samuel sebagai hakim terakhir sampai kematian Saul sebagai raja pertama, sedang 2 Samuel menceritakan masa pemerintahan Daud.


Penulis Kitab

Penulisnya tidak jelas, kemungkinan sebagian ditulis oleh Samuel (1 Samuel 10:25/ 1Tawarikh 29:29) dan juga oleh nabi Nathan dan Gad, ini dapat dilihat dan petunujuk bahwa dalam (1 Samuel 25:1) disebut kematian Samuel.

Samuel merupakan pelopor kenabian dengan membentuk sekolah nabi-nabi (1 Samuel 19:18-24/ Kisah 3:24;13:20/ Ibrani11:32).


Persoalan Waktu

Perkiraan Tanggal Penulisan: Akhir abad ke-10 SM Kemungkinan bagian pertama terjadi sebelum kematian Samuel dan bagian kedua sesudah kematian Daud, berhubung lama pemerintahan Daud disebutkan (2 Samuel 5:5).


Tidak mungkin sebelum Rehoboam, sebab Yehuda sudah terpisah dari Israel (1 Samuel 27:6), jadi waktu ditulis kira-kira 1050-925BC. Rehoboam adalah anak Salomo yang mewarisi kerajaan utara (Israel) pada 934BC.



1 SAMUEL :


Tema
Kerajaan Teokratis


Latar Belakang

Di PL Ibrani, 1 dan 2 Samuel merupakan satu kitab. Keduanya diberi nama menurut nabi Samuel, tokoh yang sangat dihormati sebagai seorang pemimpin rohani Israel yang tangguh dan yang dipakai Allah untuk mengatur kerajaan teokratis. 1 Samuel meliputi hampir seratus tahun sejarah Israel -- dari kelahiran Samuel hingga wafatnya Saul (sekitar 1105-1010 SM) -- dan merupakan mata rantai sejarah yang utama di antara masa para hakim dengan raja Israel yang pertama. 2 Samuel terutama membahas raja Daud sedangkan 1 Samuel meliput tiga peralihan utama dalam kepemimpinan nasional: dari Eli ke Samuel, dari Samuel ke Saul, dan dari Saul ke Daud.


Masalah kepenulisan mencakup 1 dan 2 Samuel sebagai satu karya tunggal. Karena sebagian 1 Samuel dan seluruh 2 Samuel ditulis setelah kematiannya, Samuel hanya menjadi salah satu penulis penyumbang (bd. 1 Samuel 10:25).

Karya terakhir ditulis oleh seorang sejarahwan dan nabi yang terilham yang memakai beberapa sumber, termasuk catatan-catatan Samuel (bd. 2 Samuel 1:18; 1 Tawarikh 27:24; 1 Tawarikh 29:29); identitas sejarahwan terilham ini tidak kita kenal. Kemungkinan besar kitab ini diselesaikan tidak lama sesudah tahun 930 SM, karena 1 Samuel tampaknya menunjuk kepada pecahnya kerajaan (1 Samurel 27:6) dan 2 Samuel berakhir dengan hari-hari terakhir Daud.

Tujuan
1 Samuel menguraikan titik peralihan yang kritis dalam sejarah Israel dari kepemimpinan para hakim kepada pemerintahan seorang raja. Kitab ini menyatakan ketegangan di antara pengharapan bangsa itu akan seorang raja (seorang pemimpin yang lalim, "seperti pada segala bangsa-bangsa lain," 1 Samuel 8:5) dan pola teokratis Allah, dengan Allah sebagai Raja mereka. Kitab ini menunjukkan dengan jelas bahwa ketidaktaatan Saul dan pelanggarannya terhadap tuntutan-tuntutan teokratis jabatannya membuat Allah menolak dan menggantikannya sebagai raja.


Survai
Isi 1 Samuel berfokus pada tiga pemimpin penting nasional: Samuel, Saul, dan Daud.

(1) Samuel adalah hakim terakhir dan yang pertama memegang jabatan nabi (sekalipun dia bukan nabi yang pertama, bd. Ulangan 34:10; Hakim 4:4). Sebagai seorang yang amat saleh dan berkarunia nubuat, Samuel


- dengan bijaksana memimpin Israel kepada kebangunan ibadah yang sejati (pasal 7; 1Sam 7:1-17),

- meletakkan landasan yang memberikan para nabi kedudukan yang layak di Israel (1Sam 19:20; bd. Kis 3:24; Kis 13:20; Ibr 11:32), dan

- dengan jelas mendirikan kerajaan itu sebagai suatu kerajaan teokratis (1Sam 15:1,12,28; 1Sam 16:1). Pentingnya Samuel sebagai pemimpin rohani umat Allah selama masa perubahan besar dalam sejarah Israel digolongkan sebagai nomor dua setelah pentingnya Musa pada masa keluaran.


(2) Saul menjadi raja pertama Israel karena bangsa itu menuntut seorang raja "seperti pada segala bangsa-bangsa lain" (1 Samuel 8:5,20). Saul dengan cepat menunjukkan bahwa secara rohani ia tidak cocok untuk memangku jabatan teokratis itu; karena itu dia kemudian ditolak oleh Allah (pasal 13, 15; 1 Samuel 13:1-22; 1 Samuel 15:1-35).


(3) Daud, pilihan berikutnya untuk mewakili Allah sebagai raja, diurapi oleh Samuel (pasal 16; 1Sam 16:1-23). Daud menolak untuk merebut takhta Saul dengan kekerasan atau pemberontakan melainkan menyerahkan kenaikan pangkatnya kepada Allah. Sebagian besar pasal 19-30 (1 Samuel 19:1--30:31) menguraikan baik pelarian Daud dari Saul yang iri secara membabi buta maupun kesabaran Daud dalam menantikan Allah untuk bertindak pada waktu yang ditentukan-Nya.


Kitab ini diakhiri dengan kematian Saul yang menyedihkan (pasal 31; 1 Samuel 31:1-13).

Ciri-ciri Khas

Enam ciri utama menandai 1 Samuel.

(1) Kitab ini dengan jelas menyajikan standar-standar kudus Allah bagi kerajaan Israel. Para raja Israel harus menjadi pemimpin yang tunduk kepada Allah selaku Raja sesungguhnya atas bangsa itu, menaati hukum-hukum-Nya dan membiarkan dirinya dibimbing dan ditegur oleh penyataan-Nya melalui para nabi.

(2) Kitab ini mencatat dasar bagi permulaan pentingnya jabatan nabi di Israel sebagai sederajat secara rohani dengan jabatan imam. Kitab ini memuat beberapa rujukan pertama dalam PL kepada sekelompok nabi (1 Samuel 10:5; 1 Samuel 19:18-24).


(3) Pertama Samuel menekankan pentingnya doa dan kuasanya (1 Samuel 1:10-28; 1 Samuel 2:1-10; 1 Samuel 7:5-10; 1 Samuel 8:5-6; 1 Samuel 9:15; 1 Samuel 12:19-23), Firman Allah (1 Samuel 1:23; 1 Samuel 9:27; 1 Samuel 15:1,10,23), dan Roh nubuat (1 Samuel 2:27-36; 1 Samuel 3:20; 1 Samuel 10:6,10; 1 Samuel 19:20-24; 1 Samuel 28:6).


(4) Kitab ini berisi informasi biografis yang kaya dan wawasan mengenai tiga pemimpin penting Israel -- Samuel (pasal 1-7; 1 Samuel 1:1--7:17), Saul (pasal 8-31; 1 Samuel 8:1--31:13), dan Daud (pasal 16-31; 1 Samuel 16:1--31:13).


(5) Kitab ini penuh dengan kisah-kisah Alkitab yang terkenal, misalnya Allah berbicara kepada Samuel muda (pasal 3; 1Samuel 3:1-21), Daud dan Goliat (pasal 17; 1 Samuel 17:1-58), Daud dan Yonatan (pasal 18-20; 1 Samuel 18:1--20:43), iri hati dan ketakutan Saul akan Daud (pasal 18-30; 1 Samuel 18:1--30:31), dan Saul serta perempuan pemanggil arwah di En-Dor (pasal 28; 1Samuel 28:1-25).


(6) Kitab ini merupakan sumber dari istilah-istilah yang sering kali dipakai: "Ikabod" yang artinya "tanpa kemuliaan," karena "telah lenyap kemuliaan dari Israel" (1 Samuel 4:21); "Eben-Haezer" yang artinya "batu pertolongan," karena "Sampai di sini Tuhan menolong kita" (1 Samuel 7:12); dan "Hidup raja!" (1 Samuel 10:24). Kitab ini juga merupakan kitab PL pertama yang memakai istilah "Tuhan semesta alam" (mis. 1 Samuel 1:3).


Penggenapan dalam Perjanjian Baru

1 Samuel mencatat dua lambang kenabian tentang pelayanan Yesus sebagai nabi, imam, dan raja.

(1) Sebagai nabi dan imam yang menjadi wakil utama Allah kepada Israel, Samuel melambangkan pelayanan Yesus yang sebagai nabi dan imam menjadi wakil terutama Allah kepada Israel.


(2) Daud -- lahir di Betlehem, seorang gembala dan raja yang diurapi Allah dan yang mengabdi kepada maksud-maksud Allah bagi angkatannya (Kisah 13:36) -- menjadi lambang utama PL dan pendahulu raja Mesias Israel. PB menyebut Yesus Kristus sebagai "Anak Daud" (misal Matius 1:1; Matius 9:27; Matius 21:9), "keturunan Daud" (Roma 1:3), dan "tunas, yaitu keturunan Daud" (Wahyu 22:16).


2 SAMUEL :


Tema
Pemerintahan Daud


Latar Belakang

Karena Kitab 1 dan 2 Samuel pada mulanya menjadi satu kitab dalam PL Ibrani, latar belakang 2 Samuel dibahas secara lebih terinci pada permulaan 1 Samuel.

Perlu diperhatikan di sini bahwa jikalau 1 Samuel meliputi sejarah selama hampir satu abad, dari kelahiran Samuel hingga kematian Saul (sekitar tahun 1105-1010 SM), maka 2 Samuel hanya mencatat pemerintahan Daud, suatu masa yang lamanya 40 tahun (sekitar 1010-970 SM).


Tujuan
2 Samuel melanjutkan sejarah yang bersifat nubuat dari sifat teokratis kerajaan Israel. Kitab ini secara mendalam mengilustrasikan dari kehidupan pribadi dan pemerintahan Daud syarat-syarat perjanjian sebagaimana dikemukakan Musa dalam kitab Ulangan: ketaatan pada perjanjian menghasilkan berkat-berkat Allah; pengabaian hukum Allah mengakibatkan kutukan dan hukuman (lihat Ulangan 27:1--30:20).


Survai
Catatan lengkap dari kehidupan Daud terbentang dari 1 Samuel 16:1 hingga 1 Raja 2:11. 2 Samuel dimulai dengan kematian Saul dan pengurapan Daud di Hebron sebagai raja atas Yehuda selama tujuh setengah tahun (pasal 1-4; 2 Samuel 1:1--4:12). Sisa kitab ini memusatkan perhatian pada 33 tahun berikutnya dalam kehidupan Daud sebagai raja seluruh Israel di Yerusalem (pasal 5-24; 2Sam 5:1--24:25). Titik peralihan dari kitab ini dan juga dari kehidupan Daud ialah perzinaannya dengan Batsyeba dan pembunuhan Uria (pasal 11; 2 Samuel 11:1-27). Sebelum lembaran gelap ini, Daud melambangkan sebagian besar cita-cita seorang raja teokratis. Di bawah perkenan, hikmat, dan pengurapan Allah, Daud:

(1) merebut Yerusalem dari suku Yebus dan menjadikannya ibu kota Israel (pasal 5; 2 Samuel 5:1-25),

(2) membawa kembali tabut perjanjian ke Yerusalem di tengah-tengah sukacita dan perayaan yang besar (pasal 6; 2 Samuel 6:1-23), dan
(3) menaklukkan musuh-musuh Israel, dimulai dengan bangsa Filistin (pasal 8-10; 2 Samuel 8:1--10:27); lalu "makin lama makin besarlah kuasa Daud, sebab Tuhan, Allah semesta alam, menyertainya" (2 Samuel 5:10). Kepemimpinannya yang kuat menarik banyak "orang perkasa" dan membangkitkan kesetiaan yang mendalam. Daud sadar bahwa Allah telah menempatkan dirinya sebagai raja atas Israel, dan dengan terus terang ia mengakui kepemimpinan Allah atas dirinya dan bangsa Israel. Allah berjanji melalui nubuat bahwa seorang keturunan Daud akan duduk di takhtanya, yang akan menggenapi secara sempurna peranan seorang raja teokratis (2 Samuel 7:12-17; bandingkan Yesaya 9:5-6; Yesaya 11:1-5; Yeremia 23:5-6; Yeremia 33:14-16).


Akan tetapi, setelah dosa perzinaan dan pembunuhan tragis yang dilakukan oleh Daud, maka kehancuran dan pemberontakan moral melanda keluarganya (pasal 12-17; 2 Samuel 12:1--17:29) dan seluruh bangsa itu (pasal 18-20; 2 Samuel 18:1--20:26); berkat nasional yang demikian besar diubah menjadi hukuman nasional. Sekalipun Daud dengan sungguh-sungguh bertobat dan mengalami rahmat pengampunan Allah (2 Samuel 12:13; bandingkan Mazmur 51:1-21), akibat-akibat pelanggarannya itu terus berlanjut hingga akhir hidupnya bahkan hingga sesudah itu (bd. 2Sam 12:7-12). Sekalipun demikian, Allah tidak menolak Daud sebagai raja, sebagaimana Dia menolak Saul (bandingkan 1 Samuel 15:23). Sesungguhnya, hati Daud yang merindukan Allah (lih. mazmur-mazmur gubahannya), dan kebenciannya akan segala bentuk penyembahan berhala menjadikannya teladan dan tolok ukur bagi semua raja Israel yang kemudian (bandingkan 2 Raja 18:3; 2 Raja 22:2). 2 Samuel diakhiri dengan pembelian tempat pengirikan Arauna oleh Daud yang kemudian menjadi tempat didirikannya Bait Suci (2 Samuel 24:18-25).


Ciri-ciri Khas

Lima ciri utama menandai 2 Samuel.

(1) 2 Samuel mencatat peristiwa-peristiwa penting dalam pemerintahan Daud selama 40 tahun, termasuk perebutan Yerusalem dari suku Yebus dan penetapannya sebagai pusat politik dan keagamaan Israel. Hidupnya ada di tengah-tengah kurun waktu kehidupan Abraham dengan Yesus Kristus.

(2) Titik pusat kitab ini (pasal 11; 2 Samuel 11:1-27) yang sangat penting mencatat dosa Daud yang tragis yang melibatkan Batsyeba dan suaminya Uria. Nabi yang mencatat sejarah kitab ini menekankan bahwa sekalipun perzinaan dan pembunuhan oleh Daud telah dilakukan dengan diam-diam, dosa itu dihukum secara terang-terangan oleh Allah pada setiap tingkatan kehidupan Daud -- pribadi, keluarga, dan nasional.

(3) Hal ini menyatakan sebuah prinsip kepemimpinan yang penting dan abadi dalam kerajaan Allah: makin besar perkenan dan urapan Allah atas hidup sang pemimpin, makin besar pula hukuman Allah apabila ia melanggar kepercayaan Allah dengan melakukan pelanggaran moral atau etis. Sekalipun di dalam Alkitab Daud dipuji sebagai orang yang berkenan kepada hati Allah, perkenan Allah berubah menjadi hukuman dan berkat-berkat-Nya berubah menjadi kutukan setelah Daud berbuat dosa, sebagaimana tercantum dalam peringatan Musa kepada Israel (bandingkan Ulangan 28:1-31).


(4) Pasal-pasal yang menggambarkan dampak-dampak beriak yang terus-menerus dari dosa atas keluarga dan seluruh negeri itu (pasal 12-21; 2 Samuel 12:1--21:22) menunjukkan betapa terikatnya kesejahteraan seluruh bangsa dengan keadaan rohani dan moral pemimpinnya.


(5) Kitab ini menyoroti pelajaran moral abadi bahwa keberhasilan dan kemakmuran sering mendatangkan kelemahan moral, yang akhirnya menimbulkan kegagalan moral. Kehidupan dan pemerintahan Daud yang mengagumkan secara tragis tercemar dengan perzinaan dan pembunuhan ketika ia mencapai puncak keberhasilan dan kuasa sebagai raja.


Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

Pemerintahan Daud sebagai raja dalam pasal 1-10 (2 Samuel 1:1--10:19) melambangkan Raja Mesias. Penetapan Yerusalem sebagai kota kudus, karunia pemberian Allah akan perjanjian Daud, dan penerimaannya akan janji nubuat bahwa kerajaannya akan menjadi kerajaan kekal, semua menunjuk ke depan kepada "Anak Daud" terakhir, Yesus Kristus, dan kerajaan-Nya yang sekarang dan yang akan datang sebagaimana dinyatakan dalam PB (bandingkan Yesaya 9:7; Matius 21:9; Matius 22:45; Lukas 1:32-33*). Untuk keterangan selanjutnya tentang penerapan PB sehubungan dengan Daud.